Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tentang Filsafat Pendidikan

Tentang Filsafat Pendidikan.  Di dalam filsafat terdapat tiga aspek yang sekaligus dijadikan landasan: yakni landasan metafisis/ontologis, landasan epistemologis, dan landasan aksiologis. Masing-masing landasan dapat dijelaskan sebagai berikut:

Landasan Metafisis

Landasan metafisis/ontologis membahas masalah realitas. Apakah realitas itu? Apakah realitas itu wujudnya mental spiritual atau berwujud materi. Landasan epistemologis membahas masalah pengetahuan termasuk bagaimana cara menpendapatkan pengetahuan itu? Sedangkan landasan aksiologis membahas tentang nilai, apakah nilai itu, apakah nilai itu absolute atau relative?

Dalam tulisan ini hanya menampilkan tiga aliran filsafat yaitu idealisme, realisme dan pragmatisme sebagai sampel untuk memperjelas keterangan mengenai landasan-landasan filosofus tersebut. Meskipun sangat disadari bahwa perkembangan pemikiran dewasa ini begitu sangat beragam seperti munculnya pandangan atau aliran: poststrukturalist, postmodernist, postpatriarchal dan psot-Marxist (Paulston, 1995: 137)

Menurut pandangan idealisme (Akinpelu, 1988: 132), apa yang dinamakan realitas adalah sesuatu yang bersifat mental-spiritual dan tidak mengalami perubahan. Dalam konteks pendidikan, peserta didik sebagai realitas dipahami sebagai sosok spiritual yang merupakan bagian dari alam semesta yang spiritual pula.. Juga dikaitkan dengan materi pelajaran atau bahan ajar, maka materi pelajaran atau bahan ajar itu menyangkut hal-hal yang sifatnya mental-spiritual seperti yang terdapat pada materi atau bahan ajar pendidikan kewarganegaraan, pendidikan Pancasila dan pendidikan agama.

Dalam pandangan realisme (Ornstein and Levine, 1985: 191-192), realitas itu dipahami sebagai sesuatu yang sifatnya obyektif, tersusun dari materi dan bentuk dan berdasarkan hukum alam. Sesuatu yang obyektif maksudnya adalah sesuatu yang berada di luar kesadaran manusia, seperti: keberadaan meja, kursi, pohon, air, matahari dan sejenisnya. Menurut teori hylemorphisme Aristoteles, meja tersusun dari materi dan bentuk. Materi atau bahannya dapat terbuat dari kayu, rotan maupun besi. Sedangkan bentuknya bentuk meja. Disebut meja, karena bentuknya meja. Meskipun bahan atau materinya sama yaitu dari kayu, tetapi karena bentuknya berbeda, maka namanya juga berbeda. Menurut Aristoteles, realitas obyektif seperti meja dan kursi dan sejenisnya tidak dapat terhindar dari hukum alam, pada awalnya masih baru, lama-kelamaan akan lapuk dan rusak. Jika pandangan ini dikaitkan dengan bahan ajar atau mata pelajaran, maka bahan ajar atau mata pelajaran memuat hal-hal yang sifatnya obyektif seperti tercermin pada mata pelajaran IPA.

Dalam pandangan pragmatisme (Ornstein and Levine, 1985: 199-200), realiats itu dipahami sebagai sesuatu yang dihasilkan dari interaksi antara individu dengan lingkungannya, dan selalu berubah. Makin banyak individu berinteraksi dengan lingkungannya, maka dia akan semakin kaya realitas yang diketahui. Jika dikaitkan dengan bahan ajar atau materi pelajaran, maka bahan ajar atau materi pelajaran harus berisi hal-hal yang memungkinkan adanya interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya, seperti banyak dipraktekkan pada anak-anak TK dan sejenisnya yang memanfaatkan hari-hari tertentu untuk jalan-jalan mengamati sesuatu yang dilaluinya sambil refreshing. Hal ini jika dilakukan pada wilayah yang lebih luas akan memperkaya realitas yang dimiliki oleh anak-anak atau peserta didik.



Landasan Epistemologis

Landasan epistemologis berkaitan dengan masalah pengetahuan termasuk masalah kebenaran. Pertanyaan mendasar yang biasa diajukan dalam kaitannya dengan masalah pengetahuan adalah: apakah pengetahuan itu? Pertanyaan ini ingin memperoleh jawaban tentang hakekat pengetahuan. Pertanyaan lainnya, bagaimana kita dapat memperoleh pengetahuan? Darimana sumbernya. Pandangan epistemologis antara lain akan menjawab bahwa pengetahuan manusia diperoleh lewat kerjasama antara subyek yang mengetahui dan obyek yang diketahui. Pengetahuan manusia tidak mungkin ada tanpa salah satunya, sehingga pengetahuan manusia selalu subyektif-obyektif atau obyektif-subyektif. Di sini terjadi kemanunggalan antara subyek dan obyek. Subyek dapat mengetahui obyeknya, karena dalam dirinya memiliki kemampuan-kemampuan, khususnya kemampuan akali dan inderawinya (Pranarka, 1987: 36-38).

Dalam kenyataan, manusia dapat memperoleh pengetahuan lewat berbagai sumber atau sarana: external sense experience dan internal sense experience, reason, intuition, revelation, faith, tradition and common-sense. (Thiroux, 1985: 478-483).

Meskipun manusia dengan segala kemampuannya telah dan akan berupaya terus untuk mengetahui obyeknya secara total dan utuh, tetapi dalam kenyataan, manusia tidak mampu untuk merengkuh obyeknya secara total dan utuh. Apa yang diketahui manusia selalu saja ada yang tersisa. Dalam istilah Michael Polanyi (1996), “ada segi tak terungkap dari pengetahuan manusia”. Dengan kata lain, manusia hanya mampu mengetahui yang fenomenal saja, dan tidak mampu menjangkau yang noumenal. Hal inilah yang memicu munculnya anggapan bahwa pengetahuan manusia itu relatif. Relativitas pengetahuan manusia itu disebabkan sekurang-kurangnya karena keterbatasan kemampuan manusia sebagai subyek yang mengetahui, dan juga karena kompleksitas obyek yang diketahui.

Jika pengetahuan manusia itu relatif, apakah kebenaran itu ada? Dengan kata lain, apakah pengetahuan manusia itu benar adanya? Pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan berbagai teori kebenaran seperti teori-teori: koherensi, korespondensi, pragmatis dan konsensus. Dalam pandangan yang lain, kebenaran itu meliputi: kebenaran epistemologis, kebenaran ontologis, dan kebenaran semantis atau kebenaran moral.

Dalam filsafat pendidikan, masalah pengetahuan antara lain terkait dengan masalah kurikulum, belajar dan metode pembelajaran (teaching-learning process). Karena pengetahuan manusia tidak dapat dilepaskan dengan masalah isi pengetahuan (realitas), maka dalam pandangan Ornstein and Levine (1985: 186), masalah realitas tercermin “in the subjects, experiences and skills of the curriculum”. Bagi peserta didik, sumber pengetahuan bukan hanya dari guru atau dosennya, melainkan juga dapat dari buku-buku pustaka, internet maupun dari sumber yang lain.

Menurut pandangan idealisme, mengetahui itu berarti memikirkan kembali gagasan-gagasan yang sudah dimiliki dan tersembunyi (latent ideas). Pengetahuan manusia itu sifatnya a priori. Dengan introspkesi, seseorang akan mengetahui berbagai hal, karena pada dasarnya manusia ketika lahir sudah membawa ide-ide. Dalam konteks ini guru atau dosen memiliki tugas untuk memunculkan pengetahuan yang sudah dimiliki oleh peserta didiknya.

Berbeda dengan idealisme, realisme berpandangan bahwa pengetahuan seseorang diperoleh lewat sensasi dan abstarksi. Dengan memanfaatkan panca inderanya seseorang menangkap berbagai macam obyek riil di luar dirinya, kemudian proses abstraksi dilakukan untuk mengambil kesan-kesan umum sehingga tersimpan dalam kesadaran seseorang. Dalam konteks ini, tugas guru atau dosen adalah mengajak peserta didiknya mengamati dan memanfaatkan panca inderanya digunakan untuk memperoleh pengetahuan, karena lewat sensasi itu obyek-obyek pengetahuan di ouar dapat diketahui, kemudian terbentuklaah konsep tentang sesuatu itu lewat daya abstraksinya.

Menurut pragamatisme, untuk dapat memiliki pengetahuan tentang sesuatu obyek, seseorang harus melakukan interaksi dengan lingkungan di mana obyek-obyek pengetahuan itu berada. Dengan interaksi itu seseorang dapat hidup, tumbuh dan berkembang. Dengan demikian, pengetahuan seseorang itu selalu berubah seiring dengan perubahan yang terjadi akibat ineteraksi seseorang dengan lingkungannya secara terus menerus. Dengan berinteraksi, pengetahuan seseoarng bertambah dan berkembang. Dengan berinteraksi pula lingkungan juga diubah dan dikembangkan oleh pengetahuan seseorang. Dalam konteks pendidikan, pemebelajaran yang disarankan oleh aliran ini adalah lewat eksperimen, pengalaman langsung dan metode problem solving.

Landasan Aksiologis

Landasan aksiologis berkaitan dengan masalah nilai, baik nilai kebaikan (etika), maupun nilai keindahan (estetika). Pertanyaan sentarlnya antara lain: Apakah nilai itu? Apakah nilai itu absolut ataukah relatif ? Dalam filsafat pendidikan, masalah nilai merupakan bagian yang sangat penting, karena dalam pendidikan, bukan hanya menyangkut transfer pengetahuan, melainkan juga menyangkut penanaman dan pengembangan nilai-nilai, baik nilai-nilai kebaikan, maupun keindahan. Meskipun dalam filsafat nilai pada umumnya ada dua (2) kategori besar nilai, yakni nilai kebaikan dan nilai keindahan. Akan tetapi jika dikaji dari berbagai pandangan, antara lain dari pandangan Notonagoro, selain dua nilai tersebut juga ada nilai kebenaran, dan nilai keagamaan (Iqbal Hasan, 2002: 188). Nilai kebaikan (etis) berkaitan dengan karsa atau kehendak manusia. Artinya, perbuatan atau tindakan seseorang terkena penilaian etis, jika perbuatan atau tindakan itu itu dilakukan dengan sengaja, atau memang dikehendaki. Persoalannya adalah bagaimana kita dapat mengetahui perbuatan atau tindakan seseorang yang mana yang disengaja dan yang tidak disengaja? Dalam hal ini, akal manusia sangat berperan untuk mengetahui mana yang disengaja dan mana pula yang tidak. Logika seseorang dapat membantu mengetahui hal ini.

Nilai keindahan berkaitan dengan rasa manusia. Dengan rasa itu seseorang dapat memberikan apresiasi estetis terhadap karya seni, apakah karya seni itu memiliki nilai keindahan atau tidak. Nilai kebenaran berkaitan dengan akal manusia, sehingga dapat menghasilkan penalaran yang logis dan rasional serta dapat memperoleh kenyataan/kebenaran. Sedangkan nilai keagamaan berkaitan dan bersumber dari kepercayaan/keyakinan seseorang dengan disertai penghayatan melalui akal dan hati nuraninya. Nilai keagamaan atau religius ini merupakan nilai ketuhanan. Dalam konteks pendidikan, nilai-nilai tersebut diupayakan agar dapat diketahui, dihayati dan menjadi miliki peserta didik, sehinggga sikap dan perilakunya mencerminkan nilai-nilai telah dmilikinya itu. Ini menjadi sebagian tugas seorang pendidik.

Menurut pandangan idealisme, nilai itu sifatnya absolut dan abadi. Pandangan ini mirip dengan pandangan realisme. Menurut realisme, nilai memang absolut dan abadi, akan tetapi tetap berdasarkan hukum alam. Sedangkan menurut pragmatisme, nilai sifatnya situasional dan relatif. Dalam konteks pendidikan, kita selalu dihadapkan pada dua pandangan besar yaitu pandangan yang menganggap nilai itu sifatnya mutlak dan abadi dan pandangan yang menganggap nilai itu sifatnya situasional dan relatif. Oleh sebab itu, seorang pendidik harus pandai-pandai mengakomodasi dua pandangan besar itu, nilai-nilai mana yang sifatnya absolut dan abadi, dan nilai-nilai mana yang sifatnya situasional dan relatif.

Landasan-landasan filosofis pendidikan jika dibicarakan secara lebih elaboratif dan jelas serta dapat dipahami oleh para pendidik diharapkan dapat membantu para pendidik mengoptimalisasikan tugas kependidikannya, sehingga dalam melaksanakan tugasnya tersebut didasarkan pada pijakan atau landasan filosofis yang jelas. Apakah berpijak pada pandangan idealisme, realisme, pragamatisme atau pandangan yang lain atau justru mencoba menggabungkan berbagai pandangan yang ada. Yang lebih penting lagi, para pendidik dapat mengembangkan seluruh potensi positif peserta didiknya kea rah yang lebih baik, lebih sempurna dan lebih berbudaya.

Pandangan filsafat idealism dikembangkan oleh esensialisme. Pandangan filsafat realism dikembangkan oleh perenialisme dan esensialisme. Sedangkan filsafat pragmatism dikembankan oleh progresivisme dan rekonstruksionisme social. Esensialisme dan perenislisme mewakili pandangan yang konservatif tentang pendidikan, sedangkan progresivisme dan rekonstruksionisme mewakili pandangan yang progresif.



Sebagian Isi Makalah Prof. Achmad Dardiri. *Disampaikan pada Seminar Nasional Pendidikan Dasar (SENADA) 2015, yang diselenggarakan oleh Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, FKIP Universitas Flores, Ende, Sabtu, 17 Oktober 2015

Posting Komentar untuk "Tentang Filsafat Pendidikan "