Suka Duka Menjadi Guru di Papua

Suka Duka Menjadi Guru di Papua. Tahun 2011, hampir dua tahun setelah saya lulus dari Program Studi PGSD Universitas Flores saya ke Papua. Impiannya tidak muluk-muluk, kerja dapat uang dan kuliah lagi. Waktu itu santer terdengar kalau beberapa tahun ke depan diploma sudah tidak layak untuk mengajar lagi. Saya yang kebetulan masih Diploma 2 galau sekali. Pikiran saya kacau balau saat itu. Mau lanjut kuliah ambil uang dari mana???. Orang tua saya yang cuma petani kecil dan umur mereka sudah semakin tua. Rasanya saya tidak tega, jika harus mengandalkan mereka untuk membiayai kuliah saya lagi. Yang ada dalam pikiran saya adalah bagaiman saya mendapatkan pekerjaan dengan gaji yg bisa saya gunakan untuk melanjutkan pendidikan saya. 



Entah dari mana sumber pikiran itu terlintas nama Papua. Orang Flores menyebutnya saat itu "Irian Jaya". Entahlah mungkin karena dari kecil sudah sering jauh dari orang tua karena harus sekolah, jadi pilihan untuk merantau menjadi sesuatu yang biasa menurut saya. Suatu ketika mama kecil (bule) saya dan suaminya yang bekerja di Papua cuti liburan dan pulang ke Aimere, kampung saya. Ketika mereka akan balik ke Papua, saya nekat saja ikut mereka. Bulan Maret saya tiba di Papua. Senang campur kaget. Senangnya karena ternyata di sini sudah ada saudara kita sedaerah malah sekampung. Kagetnya karena situasinya berbeda sekali. Dua bulan setiba di Papua saya harus belajar apa yg menjadi kebiasaan masyarakat di sini. Dan kebetulan bule saya sudah lama tinggal di sini dan pekerjaannya mengharuskan beliau bersentuhan dengan masyarakat dan itu memudahkan saya.

Menjadi Guru Di Pedalaman Papua

Sesuai ijasah saya, saya melamar di Yayasan Persekolahan Katholik (YPPK) Tillemans Mimika dan saya diterima. Tempat mengajar saya yg pertama namanya Kampung Mioko (Kamora) distrik Mimika Tengah. Saya bekerja di sana selama 5 tahun. Dari Mioko saya belajar banyak. Bertemu teman- teman dari suku lain. Suku yang saya menetap sekarang adalah Suku Kamoro daerah Timika bagian Pantai. 

Banyak tantangan yang saya hadapi ketika awal menjadi Guru di pedalaman Papua. Mulai dari kebiasaan, makanan, juga bahasa. Salah satu kebiasaan yang tidak lazim adalah membawa serta anak meski usia sekolah ke tempat mereka mencari sumber makanan. Dan itu bisa berhari-hari bahkan bulan. Makanan yg saya rasa paling ngeri adalah Ulat Sagu (orang Aimere menyebutnya Doko) dan Tambelo (hewan lunak yg hidup di batang pohon), sagu yg bagi saya rasanya hambar, daging buaya, daging tikus tanah dan Puji Tuhan semua jenis makanan itu sudah bisa dan biasa saya makan pada akhirnya.



 Baca Juga : Pengalaman Menjadi Peserta Sarjana Mendidik di Daerah 3T

Apalagi bahasa, sampai sekarang saya cuma mengerti beberapa kata. Tapi anehnya kalau mereka bicara saya bisa mengerti maksudnya. Di daerah Kamoro pada umumnya transportasi air (sungai dan laut) dan lagi- lagi saya ngelus dada karena tidak bisa berenang. Makanya ketika ada kunjungan ke sekolah lain yang harus melewati sungai saya harus bawa jerigen kosong sebagai alat bantu berenang.

Diangkat Menjadi Kepala Sekolah

Setelah 4 tahun saya mengajar di Mioko, tahun ke lima saya dipanggil oleh ketua Yayasan.Tidak terlintas dalam pikiran saya kalau saya dipanggil untuk membicarakan tentang penunjukkan saya sebagai kepala sekolah di SD YPPK Bonaventura. Sungguh mati kalau saya tahu pasti saya tidak datang

Setelah saya ke kantor beliau kasih tahu, " Adriana, enkgau pindah yah, dalam beberapa bulan ini engkau temuai kepala-kepala sekolah dan bendahara yg menurut engkau bisa belajar, belajarlah dari mereka". Sejujurnya saja saya merasa bahwa saya belum mampu. Bagaimana memanage diri sendiri saja belum tentu bisa, ini memanage orang dengan karakter serta budaya yang berbeda.

Saya juga tidak tahu bahwa kepala sekolah saya di Mioko dan teman guru berpendapat bahwa saya sudah mampu. Dan ketika ada kesempatan bicara dengan pimpinan yayasan mereka beritahu soal itu. Yang sebenarnya saya kwatirkan bagaimana mengolah sekolah. Akan menjadi beban buat saya ketika saya tidak bisa memajukan sekolah lebih baik dari pada kepsek sebelumnya.

Saya meminta pendapat dari keluarga termasuk kepala sekolah saya di Aimere. Mereka semua mendukung asalkan saya tidak menyerah dan mau belajar. Akhirnya tahun ini saya ditempatkan di sebuah kampung di Kamoro nama kampungnya Keakwa yang terletak di Distrik Mimika Tengah. Saya memiliki 6 orang guru, 1 orang penjaga sekolah, jumlah 8 orang. Dalam urusan sekolah saya santai tapi tegas. Menuntaskan 3 M (Membaca, Menulis dan menghitung) itu tujuan utamanya. Belum sebagus sekolah yg di kota tapi kami selalu berusaha berbenah diri. 



Saya tidak mempunyai motto yang spesial, tapi prinsip saya ada. Bagi saya: “tidak ada yg mustahil selama hal itu kita betul-betul punya keinginan yg kuat dan be positif. Jangan takut gagal, berani mengambil langkah dan keputusan tapi jangan egois. Menjadi pribadi yg terbuka sekaligus tegas. Saya tidal takut mati. Berani merantau berarti berani ambil resiko apapun”.

Kuliah di Uniflor: Sebuah Pengalaman Berharga

Dulu waktu di unflor memang semua dosen tidak menampakan kalau beliau2 sedang menasihati. Biasanya dengan bahasa lugas atau becanda mereka bilang:” Kamu tuh jangan terlalu seni-seni, kuliah dulu”. Singkat sih, tapi maknanya..Jleeeeeb...dalam oooo. . Di Program studi PGSD saya tidak ada dosen favorit. Semuanya saya suka. Karena hampir semua dosen ketika mengajar pasti saya curi2 tidur. Oh yah, saya juga anggota Paduan Suara Uniflor.

Bagi adik-adik saya yang telah lulus dan belum mendapatkan pekerjaan, jangan sia siakan selembar ijasah yang ada. Harus berani keluar dari Flores dan cari pekerjaan di daerah lain. Sekian Cerita saya dari Mimika Tengah, Papua (Ludgardis Adriana Moi, D2 PGSD Uniflor, Lulus Tahun 2009)

loading...

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Suka Duka Menjadi Guru di Papua"

Post a Comment

loading...

Iklan Atas Artikel

loading...

Iklan Tengah Artikel 1

loading...

Iklan Tengah Artikel 2

loading...

Iklan Bawah Artikel