Tentang Teori Belajar Konstruktivistik


Tentang Teori Belajar Konstruktivistik. Belajar menurut  perspektif  Konstruktivistik adalah pemaknaan pengetahuan. Hal tersebut didasarkan pada asumsi  bahwa pengetahuan bukanlah gambaran dunia kenyataan belaka. Pengetahuan merupakan konstruksi kenyataan melalui kegiatan subjek.  Pikiran  berfungsi sebagai alat menginterpretasi,  sehingga muncul makna yang unik. Teori  Konstruktivistik memandang bahwa ilmu pengetahuan harus dibangun oleh  siswa di dalam benak sendiri melalui pengembangan proses mentalnya. Dalam hal ini   iswalah yang membangun dan menciptakan makna pengetahuannya (Nur, 2000).

Konstruktivistik menekankan pada belajar sebagai pemaknaan pengetahuan struktural, bukan pengetahuan deklaratif sebagaimana pandangan behavioristik. Pengetahuan dibentuk oleh individu secara personal dan sosial.  Pemikiran Konstruktivisme  Personal dikemukakan oleh Jean Peaget dan KOnstruktivisme Sosial dikemukakan oleh Vygotsky.

Belajar berdasarkan Konstruktivistik menekankan pada proses  perubahan konseptuall (conceptual-change process). Hal ini terjadi pada diri siswa ketika peta konsep yang dimilikinya dihadapkan dengan situasi dunia nyata. Dalam proses ini siswa melakukan analisis, sintesis, berargumentasi, mengambil keputusan, dan menarik kesimpulan sekalipun bersifat tentatif. Konstruksi pengetahuan yang dihasilkan bersifat viabilitas, artinya konsep yang telah terkonstruksi bisa jadi tergeser oleh konsep lain yang lebih dapat diterima. 

Degeng (2000) memaparkan hasil ananlisis komparatif pandangan Behavioristik-konstruktivistik tentang belajar dikemukakan dalam tabel berikut ini.
Tabel Perbandingan Pandangan Behavioristik-Konstruktivik
tentang Belajar

              Behavioristik                                                       Konstruktivistik
Pengetahuan  adalah  objektif,  pasti, dan tetap, tidak berubah.  Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi.

Belajar adalah perolehan pengetahuan, sedang mengajar adalah  memindah pengetahuan ke orang yang belajar.

Siswa diharapkan memiliki  pemahaman yang sama terhadap  pengetahuan yang diajarkan. Artinya, apa yang dipahami oleh  pengajar  itulah  yang harus dipahami oleh siswa.

Fungsi mind adalah menjiplak struktur  penge-tahuan melalui proses berpikir yang  dapat dianalisis dan dipilah  sehingga makna yang dihasilkan dari proses berpikir ditentukan   oleh    karakteristik   struktur pengetahuan.
Pengetahuan adalah non-objective, tempo- rer, selalu berubah, dan tidak menentu


Belajar adalah penyusunan pengetahuan dari pengalaman konkret, aktivitas kolaboratif, dan refleksi serta interpretasi. Mengajar  adalah menata lingkungan agar  siswa  termotivasi  dalam menggali makna dan menghargai ketidakmampuan

Siswa akan  memiliki  pemahaman   yang berbeda terhadap pengetahuan tergantung pada pengalamannya, dan perspektif yang dipakai dalam menginterpretasikannya.

Mind berfungsi sebagai alat untuk menginterpretasi peristiwa, objek, atau perspektif yang ada dalam dunia nyata sehingga makna yang dihasilkan bersifat unik dan individualistik.

Secara hirarki Driver dan Oldham memberikan strategi pembelajaran konstruktivistik sebagai berikut.
1.     Orientasi merupakan fase untuk memberi kesempatan kepada siswa  memperhatian dan mengembangkan motivasi terhadap topik materi pembelajaran.
2.   Elicitasi merupakan fase untuk membantu siswa menggali ide-ide yang dimilikinya dengan memberi kesempatan kepada siswa untuk mendiskusikan atau menggambarkan pengetahuan dasar atau ide mereka melalui poster, tulisan yang dipresentasikan kepada seluruh siswa.
3. Restrukturisasi ide dalam hal ini siswa melakukan klarifikasi ide dengan cara mengkontraskan ide-idenya dengan ide orang lain atau teman melalui diskusi. Berhadapan dengan ide-ide lain seseorang dapat terangsang untuk merekonstruksi gagasannya,  kalau tidak cocok. Sebaliknya menjadi lebih yakin jika gagasannya cocok. Membangun ide baru hal ini terjadi jika dalam diskusi idenya bertentangan dengan ide lain atau idenya tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan teman-temannya. Mengevaluasi ide barunya dengan eksperimen. Jika dimungkinkan, sebaiknya  gagasan yang baru dibentuk itu diuji dengan suatu percobaan atau persoalan yang baru.
4.    Aplikasi ide dalam langkah ini ide atau pengetahuan yang telah dibentuk siswa perlu diaplikasikan pada bermacam-macam situasi yang dihadapi. Hal ini akan membuat pengetahuan siswa lebih lengkap bahkan lebih rinci.
5.  Review dalam fase ini memungkinkan siswa mengaplikasikan pengetahuannya pada situasi yang dihadapi sehari-hari, merevisi gagasannya dengan menambah suatu keterangan atau dengan cara mengubahnya menjadi lebih lengkap. Jika hasil review kemudian dibandingkan dengan pengetahuan awal yang telah dimiliki maka akan memunculkan kembali ide-ide (elicitasi) pada diri siswa.

Sumber: Modul PLPG Matematika. Konsorsium Sertifikasi Guru 2013

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Tentang Teori Belajar Konstruktivistik"

Post a Comment

loading...

Iklan Atas Artikel

loading...

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

loading...