Perkembangan IPA

Perkembangan IPA. Telah dibahas sebelumnya pada artikel bahwa sifat dasar manusia adalah manusia mempunyai sifat keingintahuan yang tinggi. Hal itulah yang menyebabkan manusia selalu ingin mencari jawaban untuk menjelaskan tentang fenomena alam. Fenomena alam misalnya: terjadinya guntur dan petir, meninggalnya orang yang tidur di bawah pohon besar pada malam hari Dalam upaya mencari jawaban yang dapat digunakan untuk menjelaskan fenomena alam, maka maka manusia perlu melakukan pengamatan atau penelitian yang terus menerus.  Untuk melakukan penelitian maka diperlukan landasan pengetahuanatau teori yang sudah ada.  Sebaliknya berdasarkan data penelitian yang diperoleh maka dimungkinkan mendapatkan jawaban atas pertanyaan maupun teori baru yang menjelaskan fenomena yang diteliti.  Dengan demikian inti dari perkembangan ilmu adalah penelitian yang dikelilingi atau didukung oleh landasan-landasan ilmu. Landasan ilmu yang paling rendah stratanya dikenal sebagai hipotesis.
Hipotesis yaitu berupa dugaan atau prediksi yang diambil berdasarkan pengetahuan atau teori yang sudah ada untuk menjawab masalah penelitian yang sedang dilakukan.
 Baca Juga:
Strata yang lebih tinggi adalah teori, landasan ilmu yang telah teruji kebenarannya, namun demikian teori masih mungkin untuk dikoreksi dengan teori baru yang lebih tepat.  Strata yang paling tinggi adalah hukum atau dalil, berasal dari teori yang telah diuji terus-menerus dan diketahui tidak ditemukan adanya kesalahan. Ilmu pengetahuan akan terus berkembang sejalan dengan sifat manusia yang tidak pernah merasa puas dengan apa yang sudah dipunyai atau diketahuinya.  Berdasarkan hal tersebut maka ilmu pengetahuan merupakan siklus ilmu yang tidak pernah terputus bahkan akan semakin membesar dan meluas dengan penelitian sebagai intinya. Penelitian itu dilakukan dalam upaya untuk menjawab masalah yang dikemukakan, secara sederhana masalah tersebut berupa pertanyaan apa, mengapa atau bagaimana fenomena (alam) itu terjadi.



Ilmu pengrtahuan pada mulanya berkembang sangat lambat sampai abad pertengahan (abad 15-16).  Pengembangan tersebut sedikti lebih pesat terutama setelah Copernicus yang kemudian diperkuat oleh Galileo berdasarkan penemuannya mengubah konsep geosentris menjadi heliosentris dan seklaigus mengubah kepercayaan penguasa dan agama pada saat ini.  Penemuan ini sangat dimungkinkan karena berkembangnya alat bantu  penelitian (teropong bintang) yang lebih baik.  Periode ini dikenal sebagai permulaan abad ilmu pengetahuan modern yang menetapkan suatu kebenaran berdasarkan induksi atau eksperimen.  Perubahan konsep ilmu yang radikal ini juga mempengaruhi cara berpikir dan sekaligus memacu perkembangan ilmu sampai terjadinya revolusi industri pada abad ke-19.
           
Perkembangan IPA sangat pesat terjadi setelah diperkenalkannya konsep fisika kuantum dan relativtas pada awal abad ke-20.  Konsep “modern” ini mempengaruhi konsep IPA keseluruhan sehingga dalam beberapa hal perlu dilakukan revisi dan penyesuaian konsepsi ilmu pengetahuan ke arah pemikiran modern.  Dengan demikian terdapat dua konsep IPA, yaitu IPA klasik yang telaahannya bersifat makroskopik, dan IPA modern yang bersifat mikroskopik.  Dengan demikian penggolongan IPA “klasik” dan IPA “modern” sama sekali sekali bukan berkaitan dengan waktu maupun klasifikasi bidang ilmu.  Penggolongan ini lebih mengacu kepada konsepsi yaitu cara berpikir, cara memandang, dan cara menganalisis suatu fenomena alam.  Perkembangan ilmu yang sangat besar akhir-akhir ini sangat ditunjang oleh perkembangan ilmu maupun perangkat computer yang semakin cepat dan canggih.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Perkembangan IPA"

Post a Comment

loading...

Iklan Atas Artikel

loading...

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

loading...