Profesionalisme Guru Tidak Dibuktikan Dengan Sertifikat Pendidik

Saat ini, seorang guru dituntut harus profesional. Profesionalisme guru hanya bisa dirasakan oleh siswa di kelas. Bagi siswa, profesionalisme guru sama sekali tidak ada hubungannya denganpertentangan  guru sertifikasi vs non sertivikasi, guru lulusan diploma vs sarjana, guru honor vs PNS. Dalam benak siswa, semua pertentangan tersebut tidak penting bagi mereka.

Lalu, bagaimanakah guru profesional jika dinilai dari sudut pandang mereka? Guru profesional akan dinilai oleh perannya saat proses pembelajaran di kelas. Guru yang profesional bagi mereka adalah guru yang dapat membuat mereka bahagia berada di kelas tentu saja masih dalam konteks belajar mengajar. Guru yang siswa senangi biasanya dapat membawa dunia anak-anak ke dalam proses belajar sehingga mereka betah di kelas. 


Ketika mereka betah dalam proses pembelajaran, sekolah akan terasa singkat karena tidak memikirkan waktu kapan guru tersebut mengakhiri pelajaran atau waktu pergantian jam pelajaran. Apalagi kalau guru yang mengajarkan matematika, perlu gambaran profesional dari para siswa tersebut.

Guru matematika yang berkualitas adalah guru yang mampu membawa dunia anak anak yang memiliki fenomena matematis di kelas. Bisa dibayangkan bagaimana senangnya anak anak belajar matematika misalnya operasi penjumlahan dan pengurangan dengan bermain mobil-mobilan dalam kelas. Siswa bermain mobil-mobilan menaikan dan menurunkan muatan atau penumpang sambil mengisi LKS yang khusus disiapkan guru.  

Mungkin masih ada guru yang menemukan siswanya melakukan kegiatan yang tidak relevan dengan kegiatan pembelajaran yang sedang berlangsung. Oleh karena itu guru harus mempertanyakan kondisi pembelajaran tersebut. Guru yang profesional menurut siswa adalah guru yang “tau diri” kalau tidak disenangi siswanya. Karena hasil refleksi tersebut akan membuat dirinya berubah dan memperbaiki diri agar disenangi oleh siswa siswinya. 
Dengan memperbaiki diri berarti guru mau memperbaiki pembelajaran. Di situlah letak dari pembelajaran berkualitas. Untuk memperbaiki proses pembelajaran tentu saja tidak semudah membalikan telapak tangan. Guru dituntut untuk melakukan eksperimen berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran yang dapat membuat siswa senang dan betah dalam belajar sehingga tujuan kurikulum dapat tercapai.

Untuk memperbaiki pembelajaran guru harus benar benar memahami situasi yang menyebabkan siswanya berkembang tidak sesuai yang diharapkan. Dengan memahami situasi tersebut, guru bisa memilih solusi yang tepat untuk memperbaiki kualitas pembelajaran. Hal ini harus dilakukan secara sistematis dalam sebuah penelitian yang dinamakan penelitian tindakan kelas.

Kesimpulannya adalah bahwa guru yang profesional adalah guru yang tidak menganggap diri profesional karena telah memiliki sertifikat pendidik atau telah tersertifikasi. Guru yang profesional adalah guru yang mau berubah demi kenyamanan dan keberhasilan siswa dalam belajar.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to " Profesionalisme Guru Tidak Dibuktikan Dengan Sertifikat Pendidik"

Post a Comment

loading...

Iklan Atas Artikel

loading...

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

loading...